Halaman

Terima kasih Jadi Kawan Blogger Saya

Sabtu, 7 Disember 2013

Terjemahan Surah Al-Maidah ayat 103



بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

السلام عليكم ورحمة الله وبركات kepada kawan-kawan blogger.

 Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad S.A.W. keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.

Ketika saya membaca al quran selepas sholat subuh tadi bila tiba pada surah Al-Maidah ayat 103 saya begitu tertarik untuk mengetahui apa itu Saa'ibah, Wasilah dan Haam.  Lalu saya google dan saya dapati erti ketiga-tiga perkataan ini adalah seperti berikut:



Dalam ayat ini Allah swt. menegaskan bahwa Dia tidak pernah menetapkan haramnya beberapa hal yang berlaku dalam adat Jahiliah mengenai bermacam-macam haiwan yang tidak mereka makan dagingnya sebagai syariat agama. Hanya mereka sendiri saja yang menetapkan haramnya memakan daging haiwan-haiwan tersebut. Tetapi mereka mengatakan bahawa ketentuan itu adalah datang dari Allah swt. Haiwan-haiwan tersebut adalah sebagai berikut:

Bahirah,  unta betina yang telah melahirkan anak lima kali, dan anaknya yang kelima itu adalah betina. Menurut adat Jahiliah, unta betina semacam itu mereka belah telinganya, kemudian mereka lepaskan, dan tidak boleh lagi diguna sebagai kenderaan, dan tidak boleh diambil air susunya.

Saibah,   unta betina yang dibiarkan pergi ke mana saja, tidak boleh diguna untuk kendaraan atau membawa beban, dan tidak boleh diambil bulunya, dan tidak boleh pula diambil air susunya, kecuali untuk tamu.

Menurut adat jahiliah, ini dilakukan untuk menunaikan nazar. Apabila seseorang di antara orang-orang Arab Jahiliah akan melakukan sesuatu pekerjaan berat, atau perjalanan yang jauh, maka mereka bernazar, bahwa ia akan menjadikan untanya sebagai saa'ibah, apabila pekerjaannya itu berhasil dengan baik, atau perjalanannya itu berlangsung dengan selamat.

Wasilah,   kambing atau unta betina yang lahir kembar dengan saudaranya yang jantan. Menurut adat jahiliah juga, apabila seekor kambing betina melahirkan anak kembar jantan kemudian betina, maka anaknya yang jantan itu disebut "wasilah", tidak boleh disembelih, dan tidak boleh dipersembahkan kepada berhala.

Ham,   unta jantan yang telah berjasa menghamilkan unta betina sepuluh kali. Menurut adat jahiliah unta jantan semacam itu tak boleh lagi diganggu, misalnya disembelih, atau digunakan untuk maksud apa pun, tetapi harus dipelihara dengan baik. Ia tak boleh dicegah untuk meminum air atau memakan rumput di mana pun yang disukainya.

Demikianlah antara lain adat-adat Jahiliah mengenai bermacam-macam haiwan. Mereka sendirilah yang menetapkan bahawa daging haiwan itu tidak boleh dimakan. Dan mereka katakan, bahawa ketentuan itu adalah dari Allah, dan menjadi syariat agama.

Maka dalam ayat ini Allah swt. membantahnya, dan menegaskan bahwa orang-orang kafir sendirilah yang menetapkan ketentuan itu, dan dengan demikian, mereka telah mengadakan kebohongan terhadap Allah swt.

Pada akhir ayat ini, Allah swt. menerangkan, bahwa kebanyakan orang-orang kafir tidak menggunakan akal pikirannya. Sebab andaikata mereka mau menggunakan akal sihat mereka, nescaya mereka tidak akan membuat kebohongan terhadap Allah swt. dan nescaya pula mereka tidak akan mengharamkan apa-apa yang tidak diharamkan Allah swt.

Menurut riwayat dari Ibnu Jarir, Abu Hurairah telah berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda kepada Aktam bin Jaun, "Hai Aktam, neraka telah diperlihatkan kepadaku, maka tampak olehku dalam neraka itu Amru bin Hayyi bin Qam'ah bin Khinzif sedang menarik ususnya. Maka aku tidak melihat seorang pun selain engkau yang lebih mirip dengannya." Maka Aktam berkata, "Aku merasa takut kalau-kalau kemiripanku dengannya akan mendatangkan suatu bahaya atas diriku." Rasulullah saw. menjawab, "Tidak, sebab engkau adalah mukmin, sedang dia adalah kafir; dialah orang yang mula-mula mengubah agama Nabi Ismail, dan dialah orang yang mula-mula menetapkan ketentuan tentang bahirah, saibah, wasilah dan ham."

Dan riwayat ini dapat diambil pengertian bahawa sesuatu yang diada-adakan dalam syariat agama, misalnya mengharamkan makanan yang dihalalkan Allah, atau membuat-buat syiar yang bertentangan dengan agama, atau mengadakan peribadatan yang tidak ditetapkan oleh agama sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh rida-Nya, maka perbuatan tersebut sama dengan perbuatan Amru bin Hayyi. Cara-cara yang sah untuk menyembah Allah swt. telah ditetapkan-Nya dan telah disampaikan oleh Rasul-Nya. Maka setiap peribadatan dan penetapan hukum haruslah berdasarkan nas Al quran atau ketetapan Rasul. Seseorang tidak boleh menambah-nambah menurut kemauannya sendiri.





SOURCE

4 ulasan:

Werdah berkata...

Assalamu'alaikum Ani

Begitulah jika mudah diperdayakan okeh syaitan yg telah berjanji utk menyesatkan manusia sehingga manusia tidak mahu lagi berfikir sebaliknya menuruti hawa nafsu dan melanggar syari'at Allah.

Semoga kita tetap di atas jalan syari'at yang betul..

Mak Long a.k.a Kunang-kunang berkata...

Waalaikumussalam Kak Werdah.

InsyaAllah mudah-mudahan Allah kekal dan perbaiki lagi hati kita supaya tidak terpengaruh dengan semua ini.

Kakzakie berkata...

Assalamu'alaikum Kak Ani... Baru kakak tahu juga bila membaca N3 ini. Terima kasih. Itulah golongan jahilliah membuat hukum ikut suka mereka tetapi Allah sudah beri kita akal mencari yg terbaik dari keterangan melalui kitabNya...

QasehnyaRania berkata...

As-salam
tima kasih kak berkongsi ilmu ni.